Minggu, 02 Desember 2012

sekadar renunganku



"pengharapan dan doa mungkin tidak disajikan di sini, tapi dalam sebuah lisan mulai bergumam dengan sebuah tanda-tanda yang tidak dapat disaksikan oleh mata dan para malaikat mulai mencatat seiring nafas yang kiat pekat dan padat seiring pergantian hari."

Selasa, 28 Februari 2012

Babad Geger Pengging


Syekh Siti Jenar
Babad Geger Pengging
Karya SAINI KM

PENGANTAR PENULIS

Sandiwara Syekh Siti jenar ini sengaja di beri anak judul Babad Geger Pengging. Alasannya ada dua, pertama karena sudah naskah lain yang berjudul Syekh Siti Jenar, kedua kata babad akan mengisyaratkan kepada pembaca atau penonton bahwa naskah ini bukan naskah sejarah, melainkan naskah sastra, lugasnya sastra-drama.

Kalau penulis berani menuliskan kata Babad, hal itu didukung pula oleh kenyataan bahwa di kalangan para sarjana sejarah sendiri masih ada keraguan, apakah kisah Syekh Siti Jenar itu memang pernah benar-benar terjadi atau hanya berupa cerita saja. Dengan demikian, penulis merasa lebih leluasa memergunakan cerita itu untuk tujuan-tujuannya yang bersifat sastrawi.

Memergunakan suatu cerita cesara sastrawi berarti mengolah cerita itu, memberinya tafsiran baru atau mengisinya dengan masalah-masalah lain, sesuai dengan maksud-maksud yang hendak dicapai sastrawan. Diantara maskdu-maksud itu ialah pengungkapan pengalaman sastrawan dengan pergulatannya dengan masalah-masalah yang dihadapinya masa kini dan di sini.

Dengan latar belakang seperti itu, sandiwara Syekh Siti Jenar ini  pun akhirnya dapat dianggap tidak berhubungan dengan kisah tokoh yang banyak di kenal di masyarakat Jawa khususnya dan Indonesia umumnya.

Bandung, 1986

Lakon Kisah cinta dan lain-lain



Lakon
Kisah cinta dan lain-lain
Karya Arifin C. Noer





MEWAH, MUSIK SEBUAH RUANG TENGAH DARI SEBUAH RUMAH YANG SANGAT SEPI. PINTU KAMAR ITU TERTUTUP, RUANG LENGANG
OTONG LEWAT. PINTU KAMAR ITU TERBUKA TUAN MANTO DAN DOKTER X MUNCUL

TUAN                       
Tak ada jalan lain, dokter?

DR.X (menggeleng)

TUAN                       
Mungkin ada, mungkin ada dokter lain yang bisa menolong?

DR.X                      
Hasilnya akan sama. Ini bukan semata penyakitnya yang memang sangat parah, tapi juga usianya yang sudah sangat tua. Dan lagi dia tak punya sedikitpun semangat dan kemampuan untuk hidup.

TUAN                       
Barangkali saya yang salah. Kami agak terlambat menghubungi barangkali

DR.X                      
Saya kira tuan dan Nyonya sudah cukup berusaha seperti jua saya. Nah tuan, saya kira sudah waktunya saya pergi. Saya harap tuan dapat menghibur hati Nyonya supaya tabah.

TUAN                       
Terima kasih dokter

Senin, 27 Februari 2012

LAKON JAM DINDING YANG BERDETAK


















Lakon
JAM DINDING YANG BERDETAK
(Catatan kecil sebuah keluarga dalam dua adegan)
Karya Nano Riantiarno




PARA PELAKU

THOMAS PATTIWAEL                   Papa umur kira-kira 45 tahun
MARIE PATTIWAEL                       Mama umur kira-kira 43 tahun
BENNY                                              Anak Lelakinya
MAGDA                                             Anak perempuannya
OMA                                                   Seorang nenek tetangga mereka
POLISI


Jumat, 24 Februari 2012

NASKAH DRAMA ELEGI MUSIM PANAS


ELEGI MUSIM PANAS
Karya : Chandra Kudapawana


DI SEBUAH RUANG TAMU RUMAH MEWAH. FURNITURE SERBA MENGKILAP MENGHIASI SETIAP SUDUT RUANG ITU. MEJA, LEMARI, KURSI, SEMUANYA TAMPAK MAHAL DAN BERKELAS. TAK KECUALI LEMARI KECIL TEMPAT BERDERETNYA MINUMAN-MINUMAN BERALKOHOL KELAS ATAS. SIANG HARI MUSIM KEMARAU. NIKOLAS TENGAH MENUANGKAN ANGGUR KE DALAM SLOKI. SEMENTARA TAK JAUH DARI SANA, NITA DUDUK TERMENUNG. TAK BERGAIRAH.

NIKOLAS (MENEGUK ANGGUR DARI SLOKI)
Mantap! Ini baru namanya anggur. Beda sekali dengan produk-produk local. Buatan luar negeri memang lebih bagus. (MENUANGKAN LAGI ANGGUR DALAM BOTOL).

Kamis, 02 Februari 2012

aku dan bagian kecil dari hidupku


     Terkadang kita selalu berharap semua akan baik-baik saja dan akan berjalan sesuai dengan keinginan kita. tapi tak jarang juga saat kita merasa kita sudah melakukan hal yang terbaik, justru pandangan yang berbeda datang dari seseorang yang kita anggap dekat dengan kita. Seolah kita salah saat mengambil/melakukan sesuatu yang sudah kita anggap baik itu. dan hal itulah yang baru saja aku alami. bukan berniat untuk membeberkan masalah atau malah memperpanjangnya. hanya saja, saat ini aku sedang kebingungan untuk bercerita pada siapa. karena malam ini begitu terasa sepi dan aku sedang melewatinya sendiri.


    Baru saja aku merasa sudah mencoba membuatnya tersenyum dengan memberikan lelucon dengan harapan aku bisa membuatnya bahagia dan kemudian dia mengatakan "terima kasih Sayang, aku senang malam ini" atau "terima kasih karena malam ini kamu bisa membuatku tersenyum". mungkin itu hanya gambaran dari apa yang menjadi harapanku waktu itu. meski aku tahu tak semua harapan akan menjadi kenyataan ^.^. hal itu juga terjadi padaku, apa yang aku harapkan ternyata berbeda jauh dari kenyataan, apa yang aku lakukan malah memperburuk keadaan, apakah aku termasuk lelaki baik saat ini? aku rasa tidak! aku hanya menimbulkan penderitaan bagi orang yang sedang dekat denganku atau bahkan orang yang sedang ingin dekat denganku. aku merasa aku ingin kembali pada masalalu, dimana aku bisa mengendalikan diriku dan hanya memikirkan diriku sendiri. tidak ada yang harus aku khawatirkan dan ada yang mengkhawatirkanku. mungkin itu akan merubah keadaan menjadi lebih baik. tak ada rokok yang harus aku hisap, begadang semalaman hanya karena menyesali keadaanku atau malah menyalakan televisi/komputer dengan film yang sama sekali tidak aku perhatikan jalan ceritanya hingga durasi film itu berakhir. dan aku memutar film lain sampai aku terkantuk dan terlelap dalam keadaan tak baik.


   mungkin selama ini, aku hanya sedang bersandiwara dan memainkan lakon untuk dijadikan bahan tertawaan sampai akhirnya aku harus ikut tertawa dan aku sedang mencoba bahagia saat itu. setidaknya dengan cara itu, mereka melihatku sedang berbahagia. itu mungkin untuk mereka, tapi bagaimana dengan diriku? apa yang sedang aku rasakan? sebenarnya aku sudah lupa caranya tertawa dan mengatakan "Aku bahagia" dengan senyuman yang jarang sekali aku luapkan waktu itu. mungkin saja hal itu benar adanya, karena apapun yang aku lakukan takkan membuat orang disekelilingku merasakan bahagia. contohnya saja Ayahku. Beliau menginginkanku untuk mengikuti jejaknya, atau bahkan jejak Ayah dari Ayahku yaitu Kakekku. mungkin mereka menganggap mereka orang hebat dan aku perlu mengikutinya. aku harus dipaksa masuk ke Sekolah yang namanya saja baru aku dengar dan itu jelas bukan impianku. aku harus mengikuti kehendaknya untuk masuk dunia teknik. akupun tidak tahu apa itu sekolah teknik? apalagi  saat aku membongkar sebuah rangkaian mesin dengan bagian-bagian kecil yang sangat asing di mataku. jujur saja, sebelum masuk sekolah mesin aku tidak tahu menahu bagian dari motor yang sering aku gunakan, aku hanya tahu dua roda yang bergelinding saat aku menarik gas yang ada di tangan kananku. saat itu aku mencoba tersenyum saat ibuku menanyakan "bagaimana pelajaran di Sekolah?" aku hanya mencoba tersenyum untuknya, tapi bagaimana sikap Ayah padaku? dia tidak pernah melakukannya bahkan saat itu aku jarang melihatnya di Rumah karena aku pun sudah malas untuk membuka obrolan dengannya.
kembali ke masa kecilku.

    Aku jadi ingat saat semua orang tua murid rela tak masuk kerja untuk menghadiri acara perpisahan sekolah anaknya. mereka hanya ingin melihat anaknya ada di atas podium dengan senyuman dan dengan bangga menerima hadiah berupa bingkisan kecil dari kepala sekolah. saat itu teman-temanku ditemani oleh kedua orang tuanya. berbeda dengan diriku, aku hanya ditemani oleh Ibu, yang pada saat itu merapihkan seragam yang kukenakan. aku sedikit menangis, karena merasa iri dengan teman-temanku. tapi aku menahannya, karena aku tak ingin terlihat lemah oleh Ibu dan dan teman-temanku yang sedang hangat bercanda dengan kedua orang tuanya.


    Semua orang tua murid sudah mengisi kursi yang sudah disediakan. aku beserta teman-teman berada di tempat berbeda. semua orang tua pasti mendoakan agar nama anaknya lah yang dipanggil ke atas podium dengan predikat juaran kelas, dan karena ini tahun ke-6, maka akan ada siswa yang dinobatkan sebagai juara Umum diangkatannya. semua siswa sudah pasti tegang, begitupun dengan aku. peringkat 3 sudah disebutkan untuk naik kepanggung, tapi itu bukan aku, begitupun dengan peringkat kedua, nama yang dipanggil adalah bukan namaku. aku menatap ibu yang sudah setia berada ditempat duduknya, aku takut jika aku tidak masuk dalam peringkat pada tahun ini. dan begitu peringkat satu disebutkan, nama akulah yang dipanggil untuk naik ke atas podium, dan ini bukan kali pertamanya aku naik ke podium untuk mendapatkan pernghargaan sebagi peringkat pertama. ibu bertepuk tangan begitupun dengan orang tua murid lainnya. aku merasa bangga saat itu dan berpikiran aku sudah melakukan hal yang terbaik untuk orang tuaku. kebanggaan tersendiri untuk ibu saat mendengar orang tua murid mengatakan "anak itu (Aku) terus yang naik ke Podium dan sekarang dia menjadi juara umum, tidak seperti anakku. dia anak siapa ya?" kata-kata itu dilontarkan kepada ibuku, dan ibu tersenyum sambil berkata "itu anak saya, Bu". orang tua itu merasa malu karena tidak tahu orang yang sedang ia tanya itu adalah ibuku.


     Aku bahagia saat itu, setibanya di rumah, aku kira Ayah akan mengatakan "maaf, Ayah tak bisa menghadiri perpisahan sekolah dengan alasan bla...bla..bla..." tapi hal itu tidak terjadi, bahkan dia tidak sempat menanyakan hasil belajarku selama ini. aku merasa tidak berati saat itu, dan mulai saat itu, apa aku pantas untuk merasa bangga akan diriku sendiri? aku rasa tidak!
itu adalah bagian dari masalaluku, yang seharusnya tak usah aku ingat lagi ^.^
Skip!

     Semua cerita itu menyadarkan aku, tentang kondisiku saat ini. wajar saja jika aku trauma jika disalahkan, padahal aku sudah melakukan hal yang terbaik yang bisa aku lakukan. setidakya jangan merubah sikap saat aku melakukan kekeliruan. setelah itu, aku ingin sekali mengatakan "aku tidak bermaksud untuk menyakitimu" atau mungkin saja "aku harap kau tidak bosan menerima maafku"

      Hal itu membuatku kembali kaku untuk mengatakan "bagaimana keadaanmu hari ini?" atau mungkin menggengam tanganmu saat kau hendak menaiki tangga. aku rasa aku tak bisa melakukan itu, aku berpikir saat aku melakukannya, kau hanya akan menjawab "Baik" lalu menamparku saat aku menggenggam tanganmu. bukankah itu sebuah ketakutanku? aku saat ini sedang merasakan takut. takut untuk bicara, takut untuk menatap, dan takut untuk melangkah.
entahlah, mungkin aku ingin menjadi diriku sendiri, seorang bocah yang memainkan bola di kamar sambil  menunggu Ibunya untuk meminta izin bermain bola bersama teman-teman saat keadaan hujan, dan ketikaibu Ibu tiba, hujan sudah reda. 

#Aku sudah lelah menjadi lakon dalam sebuah cerita yang harus tetap terlihat bahagia meski sebenarnya sedang terluka.

Rabu, 25 Januari 2012

Serang-Jakarta, gw menderita

SMS masuk HP gw, gtw lewat mana dan tiba2 bergetar disaku celana gw yang memang sedikit ketat (kurang bahan ala artis yang lagi irit), getaran itu membuat geli karena HP itu tepat berada di samping "sesuatu" gw, panggil saja "sahroni". gw cengengesan di depan kelas, pas banget waktu itu gw lagi presentasi mata kuliah "membaca" (lebih dari 14 tahun gw sekolah tapi masih aja diajarin membaca ma tuh dosen) sialnya lagi, matakuliah ini gw ambil untuk kedua kalinya karena gw dapet vitamin C, bikin gw mules!. makanya sampai saat ini gw malu sama nenek gw yang pinter baca rupa2 buku, mulai dari koran, quran sampai primbon dia dah jago baca. #cucu yang merana.
lanjut lagi sama "sahroni" yang malah ngerasa geli dan sontak z gw gmw diem di kursi dan jadi tontonan. #ampun dah. gw malah menikmatinya dan bukannya gw ambil tuh HP, gw malah nyengir kuda ngeliat temen2 yang lagi dengerin temen kelompok gw cuap2 tentang membaca, (nenek gw juga dah bisa baca x, Bu) : haha..

Selasa, 24 Januari 2012

Tobat Playboy


Playboy?
tttttiiidaaakkkk!!!




Isu sih isu, tapi kalau berhubungan dengan kata "Playboy" ampun dah, gak lagi-lagi.. 
cukup semasa sekolah saja gelar itu diraih hehe..
kala itu sekalinya Jomblo beneran, gak ada yang percaya dan saat nembak cewek yang buat gw kesemsem (7hari tujuh malam dalam seminggu), Doi bilang : emang kamu udah putus sama Gi**? sama Ni*** atau sama D****? terus gw mau jadi yang ke berapa?"
i'm sorry googbye, doi pergi tanpa melihat kebelakang (takut kesandung x ya) (sial, padahal waktu itu gw jomblo beneran dan tanpa rekayasa sedikitpun dari sutradara) hhi
#nasib T.T

Jumat, 13 Januari 2012

harapan itu menjadi nyata

awalnya hanya sekedar menuliskan sebuah catatan kecil tentang harapan yang ingin dicapai pada tahun 2011, sebenernya sih iseng z nulis itu tulisan dan malah terkesan mimpi di siang hari. tulisan itu saya tulis dikertas kecil yang kini terpajang di pintu lemari yang ada di kamar dan memang berukuran mini untuk kamar seorang bujangan (belum dapet jodoh) hehe.. tulisan itu setiap hari di lihat tanpa sengaja dan memang tidak ada niat untuk melihatnya, tapi semakin hari tulisan itu seolah kian tampak dengan ukuran yang lebih besar, padahal tak ada yang saya rubah dari tulisan itu.

Sabtu, 31 Desember 2011

Kambing Jantan

Desma Yuliadi Saputra
2222100681
3A Apresiasi Prosa Fiksi

KAMBING JANTAN
Raditya Dika

Saya mendapatkan tugas untuk mengapresiasi karya yang dibuat selebriti Indonesia oleh dosen saya, awalnya memang sedikit bingung karena buku apa yang harus saya baca dan bisa memotivasi saya untuk ikut menulis, ternyata tuhan memberikan saya anugrah saat melihat sertifikat yang saya dapat dari acara Beswan Jarum dengan bintang tamunya Raditya Dika yang langsung mengingatkan saya pada “Kambing Jantan” dan kebetulan di serang tidak ada bukunya. Ada yang berbisik di telinga saya, entah itu manusia atau memang iblis yang menjadi teman saya untuk meminjam saja dan terpaksa juga saya menggomabli teman saya untuk meminjam buku ini, kepepet juga sih dengan dompetnya.

Analisis Novel "Salah Pilih"


ANALISIS NOVEL SALAH PILIH DENGAN PENDEKATAN SOSIOLOGI SASTRA
Desma Yuliadi Saputra
Diksatrasia IA
FKIP-UNTIRTA

ABSTRAK
Novel ini menceritakan tentang kisah cinta seorang wanita di suku Minang yang mencintai seorang pria yang menjadi saudara angkatnya, awalnya kisah percintaan mereka terhalang oleh adat istiadat Minang yang melarang masyrakatnya untuk menikah bila sesuku atau sekaum. Dan kita akan melihat bagaimana adat akan mengatur tingkah dan perbuatan setiap masyarakatnya. Novel ini akan dikaji dengan pendekatan sosiologi sastra karena unsur budaya dan adat minang yang sangat kental dalam novel ini, terutama adat kepongahan dan adat perkawinannya yang dipakai pada masa itu, namun dewasanya kini mulai ditinggalkan oleh masyarakatnya.
Kata Kunci: Minang, Sosiologi Sastra, Adat Istiadat.

perbandingan cerpen :"Clara" dengan "Aku Ingin Menjadi Clara"


Desma Yuliadi Saputra
2222100681
3A Apresiasi Prosa Fiksi

Apresiasi dan perbandingan
Cerpen Clara dan Cerpen Aku Ingin Menjadi Clara
Seno Gumira Ajidarma

Sudah beberapa minggu ini saya sedang belajar menulis sebuah cerpen, saya mencoba untuk mengirimnya ke beberapa situs internet yang mengadakan sayembara penulisan cerpen, tapi belum ada hasil yang memuaskan karena terkadang saya merasa sulit untuk menuangkan isi pikiran ke dalam kata-kata, tapi melihat Cerpen Seno yang berjudul Clara, dia begitu bebas untuk mengekspresikan kejadian di era reformasi. Sungguh sebuah penulis yang memang kreatif. Berkat cerpen ini saya menjadi semangat kembali untuk menulis cerpen karena saya mendapat inspirasi untuk menulis seperti apa yang di lakukan Seno. Menulis dari apa yang kita lihat di sekitar kita.
Membaca cerpen Clara karya Seno Gumira Ajidarma seperti sedang membaca ulang peristiwa kericuhan besar-besaran yang terjadi pada masa pemerintahan Soeharto, waktu itu saya pernah membaca surat kabar bekas yang menceritakan tentang pemerkosaan, penjarahan dan pembunuhan terhadap orang Cina yang sedang berada di Indonesia. Waktu itu umur saya belum cukup untuk mengerti tentang masalah itu, jadi saya hiraukan saja dan tak ingin ambil pusing. Tetapi sekarang saya baru sadar ketika membaca novel ini, begitu sangat kejamnya perbedaan di Indonesia kala itu. Clara yang diperkosa ramai-ramai hanya karena dia orang Cina. Cerpen ini cukup membuat saya merasa penasaran dalam setiap membaca paragrafnya karena dalam cerpen ini Clara menjadi seorang korban yang sedang dimintai keterangan oleh wartawan yang juga akhirnya malah memperkosanya juga. Pantas saja di awal cerita Seno menuliskan “barangkali aku seorang anjing. Barangkali aku seorang babi” untuk tokoh ‘Aku’ yang sedang mengintrogasi Clara.

Jumat, 04 November 2011

Laskar Pelangi


Desma Yuliadi Saputra
2222100681
3A Apresiasi Prosa Fiksi

LASKAR PELANGI
Andrea Hirata

Sebuah karya mega best seller lahir dari tangan Andrea Hirata, Laskar Pelangi novel pertama dari Novel tetralogi yang sudah mengalami cetak ulang sampai dua puluh enam kali dalam waktu tiga tahun merupakan sebuah kesuksesan seorang penulis dalam membuat sebuah karya, wajar saja novel ini begitu laris dipasaran karena novel ini merupakan sebuah karya ‘agung’ dari seorang kelahiran Belitong.
Novel Laskar Pelangi merupakan sebuah novel yang sungguh luar biasa bagi saya, meski telah beberapa kali membacanya (sebelum saya ditugaskan untuk mengapresiasinya oleh dosen yang bersangkutan), saya tidak pernah merasa bosan untuk menikmati setiap lembar cerita dalam novel ini meski jumlah halamannya yang cukup banyak karena setiap kali saya membaca ulang novel ini, saya banyak menemukan hal baru yang menarik untuk terus melanjutkan bacaan saya.

Selasa, 25 Oktober 2011

tips buat aktifis


Ngintip tips yuck :D

Sebagai seorang mahasiswa kita memang harus pintar mengatur waktu, apalagi kalau kita aktif di sebuah organisasi yang ada di dalam kampus atau diluar kampus, pasti sangat menyita waktu kalian. Tapi jangan sampai lupa dengan tujuan utama kita berangkat ke kampus loh, untuk kuliah bukan ? menrima mater perkuliahan beserta tugas dari dosen. nah, hal itu yang harus kita ingat terus. Tapi pernah gak sih kita merasa keteteran dengan segudang kegiatan dan seabreg tugas yang diberikan kepada kita. Apalagi dengan kesehatan yang kadang mengganggu aktifitas kita. Repotkan?
Ada saran nich buat kawan-kawan yang aktif di organisasi tapi gak mau nilai kita jeblok. Coba deh cara ini:

musim kampanye


MUSIM KAMPANYE


Di sudut jalan wajahmu terpasang dalam lembar kain kematian
Bertuliskan rayuan penyair picisan
Apa kau lihat, tangisan bocah telanjang yang kedinginan?
Dalam kota yang kau agungkan

Harusnya, kau saja yang memasang gambarmu
Pada kain yang menutupi kemaluanmu
Biar tahu, mana itu pasar Rau!
Tempat berpangku wanita lugu
Mengemis dengan membawa buku

Apa yang kau pamerkan dengan senyummu?
dengan hiasan-hiasan makna kata yang tak nyata
biar saja kota mu kan bercerita
lewat udara yang kau beri harga.



Serang,  2011

Jumat, 21 Oktober 2011

sohib-sohib seperjuangan

peran pertama untuk menjadi kompeni :D dengan Rokok yang tak pernah lepas meski sedang pentas dan ternyata rokok bisa membuat gw lebih tenang saat berada diatas panggung. hehe

Guruku Sayang Dibuang Jangan




GURUKU SAYANG DIBUANG JANGAN
Rahmat Heldy HS

Novel dengan judul “Guruku sayang dibuang jangan” karya Rahmat Heldy HS adalah sebuah novel yang dari awal sudah membuat saya merasa penasaran,  ketika membaca judulnya saja saya sudah tak sabaran untuk mengartikannya, sehingga timbullah pertanyaan dalam hati saya. Mengapa novel ini diberi judul “Guruku Sayang Dibuang Jangan”? bahkan saya merasa aneh ketika ada kata “guruku”, padahal dalam novel ini penulis menceritakan perjalanan Rapie sebagai mahasiswa bukan sebagai guru, Tapi pertanyaan tersebut terjawab sudah ketika saya membaca novel ini sampai beres dan diperkuat oleh  kata pengantar dari Mas Gong. Ternyata judul awal dari novel ini adalah “Kuteriakan Cintaku di Speaker Mesjid”, setelah saya tahu, saya jadi ingin tertawa dengan judul awal novel ini, saya langsung berimajinasi, ketika Rapie menggunakan speaker mesjid untuk mengatakan cintanya pada Padma sedangkan anak DKM akan menggunakan speaker untuk adzan, bisa-bisa terjadi trategi perebutan speaker seperti yang di lakukan kandidat Presma dengan Rektor yang akan memberikan sambutan ketika acara Peduli Kampus 2011, sungguh lucu saat saya menyaksikannya.
Awalnya saya bukan seorang yang “kutu buku” apalagi bercita-cita menjadi seorang penulis, namun novel ini memberi saya motivasi lebih untuk belajar menulis karena apa yang diceritakan oleh penulis tak berbeda jauh dengan kisah hidup saya, jadi tak percuma saya membaca novel ini meski sudah menyita waktu saya selama enam hari belakangan ini. Saat berada di kantin, di PKM DIKSATRASIA, hingga ke kelas pun saya membawa buku ini dan membuat saya lupa membawa buku mata kuliah lain. Ketika Rapie memberikan puisi untuk Padma, saya jadi punya inisiatif untuk membuat sebuah cerpen untuk wanita yang tak perlu saya sebutkan namanya. Berkat novel ini saya jadi berani untuk menulis sebuah cerpen dan memberikan cerpen itu kepada mahasiswi jurusan B. Inggris, meski ujung-ujungnya sama saja dengan nasib yang dialami Rapie, kecewa!, tapi tak mengapa, itu semua membuat saya semakin ingin menuliskan kepedihan saya kedalam sebuah cerita seperti yang dilakukan oleh penulis dalam novel ini.

PRESIDEN PRAWIRANEGARA




PRESIDEN PRAWIRANEGARA
Akmal Nasery Basral

Novel sejarah “Presiden Prawiranegara” karya Akmal Nasery Basral merupakan novel sejarah pertama yang saya baca. Awalnya saya merasa malas untuk membacanya karena berhubungan dengan sejarah yang saya kira sulit untuk dimengerti dan terkesan membosankan, tetapi setelah membaca novel ini saya jadi berpikir ulang bila harus berkata demikian, malah saya merasa harus lebih mempelajari tentang sejarah Indonesia. Novel yang sangat menggugah pembacanya untuk lebih mengenal sejarah bangsanya karena masih banyak fakta yang belum terungkap atau terkesan asing di mata masyarakat.
Ketika saya membaca novel ini, seolah-olah saya terhanyut ke dalam cerita, sehingga sayang jika menunda untuk menyelesaikan membacanya sampai selesai. Dengan cerita yang mengalir dan membuat saya kembali mengingat tentang pelajaran sejarah sewaktu duduk di bangku sekolah. mencoba mengulas beberapa nama tokoh dalam sejarah perjuangan Indonesia melawan tentara Belanda yang ingin merebut kembali NKRI pada sekitar tahun 1948. Namun ada beberapa tokoh yang tidak pernah saya dengar sama sekali dalam pelajaran sejarah Indonesia seperti Kamil Koto dan Syafruddin Prawiranegara. Timbul pertanyaan pada diri saya, manakah tokoh yang merupakan bagian dari sejarah dan fiksi yang ada dalam novel ini? Namun, pertanyaan itu terjawab ketika saya mengingat perkataan dari Pak Akmal sendiri tentang kedua tokoh ini. “Kamil Koto merupakan sebuah tokoh fiksi yang dimasukan kedalam cerita, sedangkan Syafruddin Prawiranegara adalah tokoh nyata dalam sejarah yang ada dalam cerita”. Beruntung sekali saya datang ke acara bedah karya yang diadakan oleh Rumah Dunia, karena mendapatkan pencerahan langsung dari penulisnya untuk mengapresiasi novel ini.

"mereka Bilang, Saya Monyet!"


ANTOLOGI CERPEN
“MEREKA BILANG, SAYA MONYET!”
Djenar Maesa Ayu

Berbicara tentang Djenar, saya langsung berpikir tentang sosok cerpenis wanita yang terkesan “liar” ketika mengolah kata dalam sebuah cerita. Bagaimana tidak? Dari beberapa cerpen yang ditulisnya, tidak sedikit karyanya berupa sindiran tentang kehidupan sosial yang cenderung berbau seks dan bebas, yang tentunya sering kita jumpai dikehidupan sehari-hari.
Dalam antologi cerpennya yang pertama, saya menemukan realita kehidupan sosial yang digambarkan oleh Djenar dalam sebuah cerita yang menggunakan sosok binatang sebagai tokoh utama dalam ceritanya, yaitu “Mereka bilang, saya monyet!”. Dari judul bukunya saja, Djenar sudah menggambarkan sosok “Saya” sebagai monyet. Namun, pada kenyataan yang terjadi pada tokoh “Saya” adalah hidup dengan penuh kemunafikan yang digambarkannya dengan sosok binatang, yang menganggap dirinya sebagai manusia yang bermartabat, mempunyai hati dan akal pikiran,  namun tingkah lakunya seperti binatang.
Sungguh, sebuah keberanian yang luar biasa. Seorang Djenar menempatkan sesosok manusia yang berkepala buaya dan berbuntut kalajengking dan berdasi. Wanita berkepala anjing yang mempunyai suami dan wanita bergaun indah dengan kepala ularnya kedalam sebuah cerita.
Djenar menggunakan sudut pandang orang pertama sebagai wanita yang berkepala monyet. Menurut saya, menjatuhkan karakter penulisnya sendiri, hal ini merugikan penulis. Karena tidak ada satupun orang yang mau dan rela bila dipanggil “monyet”. Selain itu, dari isi ceritanya pun sedikit membuat saya sedikit risih dengan adegan yang cukup fulgar untuk sebuah bacaan yang umum. Adapun kutipannya sebagai berikut:
”Saya tahu persis siapa dirinya. Saya tahu persis Si Kepala Anjing berhubungan dengan banyak laki padahal ia sudah bersuami. Saya persis Si Kepala Anjing sering mengendus-ngendus kemaluan Si kepala Srigala. Bahkan Si Kepala Anjing juga pernah mengendus-ngendus kemaluan saya walaupun kami berkelamin sama. Tapi tidak di depan umum”. (halaman 8)

Sekali Peristiwa di Banten Selatan



SEKALI PERISTIWA DI BANTEN SELATAN
“Pramoedya Ananta Toer” 

Novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan karya Pramodya Ananta Toer menjadi sebuah bukti dari sejarah yang terjadi disekitar daerah Banten selatan tempo dulu berdasarkan hasil kunjungannya pada akhir tahun 1957. Pram termasuk penulis yang cukup berani karena telah mengungkap sejarah dengan tulisannya yang awalnya masih tabu bagi rakyat indonesia, terutama kabar dari sebuah daerah terpencil yang minimnya akan informasi. Karena keberanian inilah Pram pernah keluar masuk penjara, yaitu 3 tahun dalam penjara kolonial, 1 tahun pada masa Orde Lama, dan paling lama 14 tahun masa Orde Baru. Tetapi dalam masa-masa itu Pram tidak patah semangat untuk terus menulis meski dalam keadaan apapun. Maka pantaslah bila Pram yang mendapatkan penghargaan nobel dan karyanya  yang satu ini telah diterjemahkan kedalam bahasa asing seperti, rusia dan cheko.
            cerita yang disajikan oleh Pram dalam novel ini sangat mudah dimengerti dengan gaya bahasa yang disuguhkan oleh Pram dalam novel ini seperti gaya bahasa yang digunakan dalam naskah drama. Novel sastra yang mengandung nilai sejarah seperti inilah yang menjadi sebuah aset bagi bangsa Indonesia, apalagi novel yang dapat membuat kita membuka mata akan kelamnya sejarah Indonesia.